Gandeng Rumah Sakit Se-Jawa Timur, APSI Mendorong Limbah B3 Menjadi Bernilai

0
141
views

Surabaya, asosiasisampah.org– Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) saat ini tengah melakukan sinergisitas dengan Rumah Sakit (RS) di Jawa Timur, guna mengoptimalkan sampah limbah B3 medis menjadi nilai ekonomi tinggi, dengan cara mendaur ulang kembali sampah-sampah medis.

Ditemui saat acara Diskusi Daur Ulang Limbah Padat Medis Rumah Sakit di Hotel Sahid-Surabaya, Sabtu (25/05/19)

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI), Saut Marpaung mengatakan, tujuan digelarnya diskusi ini agar rumah sakit di Jawa Timur bisa mengelola limbahnya lebih baik lagi.

“Harapan kita bersinergi dengan pihak rumah sakit,”ujarnya kepada wartawan di Hotel Sahid Surabaya, Sabtu (25/05/19).

Ia menambahkan, APSI juga berencana melakukan pertemuan dengan pihak produsen atau pabrik pembuat cairan infus dan obat-obatan dalam waktu dekat ini.

“Mereka menghasilkan sampah medis sehingga kita ajak kolaborasi,” katanya.

Menurutnya, persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab penghasil sampah seperti rumah sakit, hotel, rumah makan dan lainnya, melainkan juga tanggung jawab semua, termasuk produsen yang diharapkan bisa mendaur ulang kembali hasil produksinya.

“Produsen tidak memikirkan produksi tapi harus memikirkan keberlanjutan. Ketika jadi sampah harus jadi terolah kalau bisa didaur ulang. Kita diskusi soal desain dalam produk farmasi atau alat kesehatan,”terang Saut.



Pada acara kali ini hadir Christian Linting, CEO PT Wallezz Finansial Teknologi, Wallezz sebagai partner penyedia teknologi informasi APSI dan Pemerintah Daerah dalam program digitalisasi data sampah mendorong terbentuknya pengelolaan sampah berbasis teknologi sebagai sebuah langkah menuju Smart City yang berkelanjutan. Melalui penggunaan teknologi, data reduksi sampah dapat diperoleh real time sebagai pendorong program Perpres Jakstranas dengan target pencapaian penyelenggaraan yang diukur melalui pengurangan sampah sebesar 30%, dan penanganan sampah sebesar 70% pada tahun 2025.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mendorong pemerintah daerah yang mempunyai keinginan membangun tempat pengelolaan limbah medis atau Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Sementara itu, Kasubdit Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3 Sektor Prasarana dan Jasa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Edward Nixon mengatakan, saatt ini ada enam jasa pengolah limbah medis di Indonesia. “Tapi kebanyakan dikelola pihak swasta tetapi dari pemerintah daerah belum ada,” kata Edward Nixon.

Edward menjelaskan, adapun enam jasa pengolah limbah medis di Indonesia meliputi PT Wastec Indonesia di Cilegon, PT Tenang Jaya Sejahtera di Kerawang, PT Arah Environmental Indonesia di Sukoharjo,PT Putra Restu Ibu Abadi (Pria) di Mojokerto, PT Pengelolaan Limbah Kutai Negara (PLKK) di Kalimantan Timur dan PT Desa Air Cargo Batam (PT DACB) di Batam.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan saat ini sedang dalam proses pengajuan izin pembangunan pengelolaan limbah B3 ke Pemerintah Pusat. “Kami berharap tahun ini proses perizinan sudah selesai,” ujarnya.

Ia juga mendorong pemerintah daerah lainnya sudah mulai merencanakan pembangun tempat pengelolaan limbah sebagaimana yang sudah dimulai oleh Pemprov Sulawesi Selatan.

“Infonya Jatim juga berencana mau membangun limbah B3. Apalagi informasinya ada 11 ton limbah medis rumah sakit di Jatim setiap harinya,” ungkap Edward Nixon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here